
Di sini saya tidak akan mengurai kronologis aksi demo penolakan yang berubah menjadi anarkis, namun lebih kepada menyampaikan sedikit informasi ke Anda seputar busur yang digunakan oleh oknum pendemo melukai salah satu aparat kepolisian.
Kalau ketapel mangga/jambu menggunakan batu, anak panah atau busur terbuat dari besi dengan panjang kurang lebih 20 sentimeter (sejengkal) yang dibentuk sedemikian rupa, menyerupai ujung anak panah pada umumnya. Sedangkan pada bagian pangkal diberi tali rapiah yang berfungsi sebagai penyeimbang saat dilepaskan. Busur dapat juga dimodifikasi menyerupai tattoo abstrak yang ujung busur dibuat 2 hingga 3 susun bagian sisi yang runcing/tajam. Tujuannya agar anak busur nantinya sulit untuk dikeluarkan dari badan seseorang.

Si Pemegang busur haruslah memiliki teknik khusus serta mengetahui seberapa jauh jangkauan busur yang dibuatnya, mengetahui keseimbangan berat antara panjang besi dan tali rapiah yang diikat di pangkal. Salah melepas busur, bisa-bisa menembus tangan atau berbalik menghantam Si Pemegang.
Apabila Anda menemui seseorang yang memegang alat ini dan mengarahkan busur ke Anda, segera kencangkan sekuat-kuatnya baju Anda ke bawah. Begitupun sebaliknya jikalau Anda berbalik menjauh; menghindari, segera pula kencangkan baju ke bawah sambil berlari zig-zag.
Biasanya kalau seseorang terkena busur (oknum pelaku tawuran antar genk, pelajar) akan takut masuk rumah sakit. Dikarenakan takut pada polisi yang nantinya akan menangkapnya. Maka busur dikeluarkan sendiri dari tubuh. Jika seperti kasus yang dialami Wakapolsek Makassar, maka busur dikeluarkan dengan cara melepas terlebih dahulu ikatan tali rapiah pada pangkal besi kemudian dibuat tembus lalu ditarik keluar. Selanjutnya, lubang bekas busur yang bersarang tadi diberi alkohol.
Nyali remaja sekarang, lebih besar dibandingkan orang dewasa. Mereka tidak takut bahaya. Olehnya itu, kita sebagai tauladan bagi mereka, sebaiknya jangan memberi contoh kekerasan di depan mata mereka. Astagfirullaah Yaa Rabb..!